Corak Warna Perbedaan Yang Seharusnya Tidak Menjadi Perselisihan

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

MARKUMI.idDalam syariat Islam disebutkan bahwa aurat pria itu batasannya semua bagian tubuh antara pusar hingga lutut saja. Bagian tersebut wajib tertutup terhadap semua orang yang bukan mahramnya. Dan menutupi aurat bagian itu juga menjadi syarat sah di dalam sholat.

Sesuai fiqih-nya, seorang pria yang sholat di masjid dengan telanjang dada tanpa baju dan tetap menutup auratnya bagian pusar hingga lutut dengan sempurna maka tetaplah sah sholatnya. Tidak ada yang bisa mengharamkannya, melarangnya, tidak boleh ada yang mengganggu gugat, bahkan tidak bisa seorang pun menghukumi batal sholatnya pria itu hanya karena telanjang dada.

Namun jika hal seperti itu terjadi, dan Anda melihatnya di masjid pria seperti itu hendak menjadi imam sholat, atau bahkan berkhutbah jum’at masih maukah Anda menjadi makmumnya? Tentu saja banyak yang menganggapnya “gila”, tak pantas atau bahkan mungkin ada sebagian orang yang menilainya ngga’ waras, atau bisa juga ada yang akan marah melihat sikapnya. Padahal itu sah dan dibenarkan. Tidaklah suatu keharaman.

Nah, itulah contoh menyikapi perbedaan. Lantas benarkah perbedaan itu adalah rahmat?

Perbedaan itu adalah rahmat manakala perbedaan itu masih berada dalam koridor yang sesuai dengan petunjuk Allah, Nabi dan rasul. Sesuai dengan hukum syariat yang ada yang diteladankan Nabi Muhammad Sallallahu ‘alahi wa sallam. Dan tak boleh menyalahi syariat yang telah tetap dan mutlak.

Di dalam kitab Lum’ atul I’tiqod disebutkan bahwa Ibnu Qudamah Almaqdisi rahimahullah mengatakan: “Ikhtilafuhum Rahmah” yang artinya perbedaan di antara mereka (para ulama dalam perkara fiqih) adalah rahmat.

Sekelumit kisah yang akan saya tuliskan di sini sebagai suatu gambaran perbedaan dan berkumpulnya beraneka corak warna pola dan cara ibadah yang berbeda namun tetap menyatu di dalam satu naungan rumah tangga di dalam tempat tinggal yang sama. Sebuah kisah keluarga dengan latar belakang ayah bernafaskan kehidupan nahdhiyyin dan seorang ibu berasal dari kalangan keluarga Muhammadiyah yang disatukan oleh Allah jalla wa ‘ala selama lebih dari 40 tahun dan tinggal di dalam 1 kehidupan keluarga yang tetap dipenuhi rasa cinta diantaranya dan atas setiap anak-anak juga sebagai anggota keluarganya, meski terkadang ada perbedaan penyikapan dalam ibadah mereka pada masing-masing diri.

Sejak kecil di masa usia SD semua anak dari keluarga itu disekolahkan di Muhammadiyah. Lalu ketika usia SMP 3 anaknya bersekolah di satu sekolah yang sama pula, yaitu di MTsN. Namun ada 1 anak perempuannya yang dimasukkan oleh sang ayah ke pondok pesantren Nahdhiyyin semasa usia SMP. Kemudian ketika usia SMA barulah pilihan sekolah dibebaskan dan diserahkan kepada masing-masing anaknya, dan nasib takdir menentukan pilihan SMA yang berbeda pula. Ada anak pertama diterima SMAN. Anak keduanya di MAN. Dan ada anak perempuan ke tiga justru memilih masuk ke STM N. Sedang si bungsu lelaki diterima di STM Muhammadiyah. Lalu perguruan tingginya pun terjadi perbedaan pilihan semua.

Di dalam keseharian aktivitas ibadahnya di lingkungan kampung yang bernuansa nafas nahdhiyyin. Padahal sang ibunda berasal dari keluarga Muhammadiyah secara menyeluruh bahkan sekolah ibunya pun sejak kecil hingga akhir usia sekolahnya berada di lingkungan Muhammadiyah juga. Sang ibu sering melakukan cara beribadah yang berbeda dari sang ayah dan anak-anaknya, dan juga tak sama dengan para tetangga yang menjadi masyarakat di sekitarnya.

Ibunya sholat subuh tak menggunakan qunut. Bacaan doa iftitah di dalam sholatnya pun tidak seperti kebanyakan orang umumnya. Bahkan seringkali memulai ibadah puasa ramadhan dan kedua sholat id dengan permulaan hari tak sama dengan para anggota keluarga dan tetangga. Kini tampaknya dari satu rahim yang sama itupun telah terlahir beraneka macam warna, kemantapan fiqih berbeda, serta wadah pilihan beragama yang tak serupa, meski semua tetap sama dalam bertauhid kepada Allah jalla wa ‘ala.

Jika saja sang ibu bisa bertahan dalam banyaknya perbedaan selama lebih dari 40 tahun ketika mendampingi sang ayah sebagai suaminya, tinggal di dalam satu rumah dengan ketidakseragaman, bahkan hidup tinggal di lingkungan kampung suaminya sebagai minoritas ketika semasa awal menikahnya atau malah mungkin juga sang ibu sebagai orang tunggal yang memiliki pijakan berbeda pada saat itu, lantas kenapa saya sebagai anaknya musti menyerah dengan perbedaan???

Aneka corak warna perbedaan itu adalah rahmat dan itu hal yang benar manakala ditinjau dari sisi usaha keras para ulama yang melakukan ijtihad sehingga muncul berbagai macam pendapat yang ada. Letak perbedaan tetap dianggap sebagai rahmat saat berpijak pada dalil yang dibenarkan dan tidak menyelisihi, tidak bertentangan dengan petunjuk Nabi Muhammad.

Sebagaimana sang ibu memiliki prinsip pendirian kuat dengan pijakan yang ada dan juga dibenarkan bahwa sholat subuh tidak memakai qunut, dimana disekelilingnya berqunut dan mengangkat tangannya sambil berdoa. Lalu mengapa saya tidak bisa mempertahankan keyakinan pijakan hidup pada jalan lurus yang kini mulai kutempuh dengan cara berbeda dari yang lainnya? Ketika sang ibu tak malu memilih mengikuti sholat tarawih yang berjumlah 11 rakaat sebagaimana kemantapannya, meskipun dikampung yang terselenggara adalah sholat tarawih 23 rakaat lantas membuat sang ibu memilih makmum di tempat berbeda. Dan juga ketika sang ibu memilih tidak mengikuti kegiatan rutin acara kumpulan yasinan, maulidan, sholawat nariyahan yang diyakini itu tidak sesuai dengan dalil yang dibenarkan, padahal di masyarakat sekitarnya para wanita mengikuti kegiatan rutinitas tersebut. Lalu ketika saya memilih untuk memutuskan mengambil suatu keutamaan (sunnah) bercadar mengapa saya musti takut? Mengapa harus malu atau ragu? Apa yang harus saya khawatirkan? Toh, itu bukanlah suatu larangan, namun justru merupakan kemuliaan. Dan perlu digarisbawahi bahwa bercadar bukanlah simbol suatu kejahatan, bukan juga simbol teroris sebagaimana telah dinyatakan oleh para aparat penegak hukum kepolisian dengan tegas bahwa bercadar merupakan bagian dari syariat Islam juga, dan bukan lambang pakaian para istri teroris atau pelaku kriminal. Harusnya sungguh tak perlu risau, takut ataupun khawatir dengan pakaian serba hitam dan bercadar.

Nabi Muhammad Sallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Daud no. 4607, HR. Attirmidzi no. 2676, HR. Ibnu Majah no. 42, Attirmidzi mengatakan hadits ini hasan shohih. Syekh albani mengatakan hadits ini shohih. Dalam shohih attarghib wa attarhib no. 37).

Imam Syafii rahimahullah mengatakan di dalam I’lamul Muwaqi’in 2/282, bahwa: “Kaum muslimin telah sepakat bahwa siapa saja yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah Sallallahu ‘alahi wa sallam, tidak halal baginya untuk meninggalkan (sunnah)nya karena perkataan yang lainnya.”

Jadi bagi yang telah mengetahui dasar-dasar sunnah sudah seharusnya menjaga amalan-amalan sunnah tersebut agar tetap dilaksanakan dengan baik, benar dan istiqomah sesuai kemampuannya dan kesempatan yang dimilikinya. Sebagaimana berpuasa sunnah pada hari senin dan kamis jika telah tahu dalilnya, sepatutnya dilaksanakan, namun jika keadaan memberatkan atau ada udzur boleh ditinggalkan. Begitu pula dengan bercadar sekiranya berpijak pada sunnah (bukan meyakini cadar sebagai sesuatu yang wajib) sekiranya mampu untuk memakainya maka pakailah, dan jika ada udzur yang memberatkan untuk melepas cadar boleh untuk tidak memakainya. Lain halnya untuk hijab khimar guna menutup aurat yang wajib dikenakan, tak boleh untuk ditinggalkan sebab menutup aurat (selain wajah dan telapak tangan) adalah suatu kewajiban bagi perempuan. Meski ada sebagian kecil yang menganggap telapak kaki bukanlah kewajiban yang mutlak, namun ketika di al Qur’an disebutkan bahwa bagi perempuan yang boleh tampak ialah wajah dan telapak tangan saja, maka saya pun tak ingin menyelisihinya. Meskipun perbedaan merupakan rahmat bagi para alim ulama dalam berijtihad hukum.

Sehingga tak perlu lagi ada caci maki hingga bully terhadap perbedaan hukum fiqih yang telah jelas diketahui hukumnya memang tak seragam dan ada beraneka corak warna. Bahkan tak boleh pula menghina para wanita yang tampak tak istiqomah dalam bercadar, mungkin saja ia memang meyakininya bukanlah suatu kewajiban dan sedang ada udzur serta alasan kuat yang dibenarkan ketika tak memakainya. Sama halnya ketika seseorang yang terbiasa puasa hari senin dan kamis, lantas suatu saat tidak melakukan ibadah puasa itu lagi karena suatu sebab hal semacam itu tak perlu diperdebatkan.

Mari bersikap bijak dalam menghadapi perbedaan. Hingga terpancar kerukunan dan persaudaraan yang indah. Ukhuwah islamiyah yang sesungguhnya. Islam yang rahmatan lil ‘alamin sesuai dengan petunjuk Rasulullah Muhammad Sallallahu’ alahi wa sallam.
Wa billaahi taufiq wal hidayah.

Penulis:
Atina Laylata Qodrika, S.S.
(Seseorang yang berasal dari keluarga yang beraneka corak warna dalam pijakan cara ibadah bab fiqih di dalam rumah tangganya yang menyatu tinggal di dalam naungan 1 rumah yang sama dan berasal dari 1 rahim yang sama).


Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.