Zakat di Pusaran Merebaknya Amil Zakat

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

MARKUMI.idSaat lebaran menjelang tiba. Dan seperti biasa, banyak bermunculan amil zakat baru, tumbuh dengan begitu suburnya.

Banyak amil zakat yang muncul diinisiasi takmir masjid, pengurus mushola, sekolahan atau amil zakat “dadakan” lainnya. Semua berlomba mengumpulkan zakat, baik zakat fitrah atau zakat mal. Salahkah? Tentu saja tidak. Keberadaan amil zakat sendiri mendapatkan legitimasi yang kuat dari Al Qur’an. Tidak salah juga bila orang-orang berlomba menjadi amil zakat, anggaplah sebagai pengejawantahan nilai fastabiqul khoirot. Jadi clear, sampai di sini tidak ada masalah.

Namun, sedikit mengganjal barangkali terletak pada kualifikasi dari individu petugas amil atau bahkan yang menugaskan seseorang menjadi amil. Misal, di satu pedukuhan di daerah Bantul, ada masjid yang mengumumkan menerima zakat tapi tidak pernah didapati petugas penerima. Jadi, di masjid hanya disediakan kertas dan pulpen untuk menulis dari siapa, berapa orang, dan berapa kilogram beras yang dibawa. Selesai menulis, beras diletakkan begitu saja di gudang masjid. Kejadian ini nyata, bukan fiktif belaka. Bahkan suatu ketika, sempat penulis menegur tapi cuma dapat jawaban “tidak apa-apa, biasanya juga begitu”. Sahkah zakat seperti itu? Masalah yang lain dan yang banyak terjadi, zakat yang terkumpul hanya dibagi-bagikan kembali kepada warga sekitar. Tidak masalah manakala warga sekitar memang memenuhi syarat sebagai mustahiq.

Hanya saja yang kerap terjadi, pembagian zakat kepada warga didasarkan pada “ketidakmampuan” amil mencari dan menemukan orang-orang yang benar-benar berhak menerima zakat. Dan tentu sekedar mempermudah persoalan dengan kalimat “yang penting zakat yang terkumpul sudah dibagikan semua, beres”. Fenomena seperti ini sudah selayaknya dikaji. Agar “ruh” dari perintah zakat sesuai dengan apa yang dikehendakiNya.

Pemerintah melalui baznas sebenarnya sudah memfasilitasi muzakki untuk menyalurkan zakatnya. Dan penulis yakin, pemerintah punya data orang-orang yang benar-benar berhak menerima zakat tersebut. Hal itu kalau pun masih percaya dengan pemerintah. Tapi semua kembali lagi kepada muzakki. Tapi hemat penulis, kalau tidak mau menyalurkan lewat Baznas, alangkah lebih baik disalurkan langsung kepada yang berhak daripada melalui amil zakat yang maaf, tidak berkompeten.

Wallohu a’lam.

Abdee JM. (Kolomnis dari Jepara, saat ini tinggal di Bantul)


Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.