Selamat Datang di Era Kebenaran “Gue Suka”

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

MARKUMI.idSaat ini kehidupan sosial seakan tak asik lagi. Apalagi dalam jagad maya. Semua telah menjadi gado-gado. Sampah (hoaks) jadi berlian. Kebenaran seperti sampah berserakan.

Selamat datang di era pasca kebenaran (post truth). Begitu banyak kalangan menjabarkan. Era di mana kebenaran telah dikebiri sampai ke akar-akarnya. Fakta dan data hanyalah pemanis belaka. Toh, pada akhirnya kesukaan dan kebencian yang menjadi dasar argumennya.

Saat ini kebanyakan tak lagi peduli tentang kebenaran itu sendiri. Kebenaran telah ikut terpolarisasi. Ke dalam subyektivitas manusia. Siapa yang menyampaikan dan apa preferensi ideologinya. Bukanlah materi dari kebenaran.

Banyak kalangan era seperti ini ada karena dinamika politik. Persaingan menuju kekuasaan yang sengit. Mau tidak mau strategi produksi kebohongan menjadi pilihan. Ada satu pepatah, “kebohongan yang diulang, bisa dianggap kebenaran.” Sungguh mengerikan jika memang era seperti ini benar adanya.

Contoh kecil, bisa Anda lihat di lingkungan sekitar. Karena perbedaan pandangan politik, orang rela menebar cacian, hinaan. Yang lebih akut, dalam konteks agama. Ulama menyampaikan kebenaran, akan dilihat dulu ulama mana yang menyampaikan? Meski sama-sama berdasarkan Al-Qur’an.

Padahal kebenaran yang disampaikan sama. Dasarnya sama, Al Qur’an. Tapi akan berbeda, karena subyek yang menyampaikan. Kalau sesuai kelompok jelas akan dipakai. Kalau tidak, yang siap-siap ditinggalkan. Jadi, kembali pada suka atau benci dari si penerima.

Bahkan yang bikin geleng-geleng kepala. Meskipun, si penyampai salah pun. Selama sesuai preferensi baik politik atau ideologi. Ya, diterima aja. Tanpa ada koreksi, seandainya ada pasti cukup “manusia tempatnya khilaf.”

Ya, sudahlah. Setiap era atau zaman ada tantangan tersendiri. Untuk era seperti ini, diam bukanlah solusi. Lawan, sampaikanlah narasi kebaikan tetap dengan santun. Emosi, kebencian, jangan dikedepankan. Karena tauladan umat Islam, kanjeng Nabi Muhammad pun dalam menghadapi orang kafir hingga perang (jihad) tidak ada kata yang keluar dari mulutnya hinaan, cacian, maupun kebencian. [ ]

Wallahu a’lam bis showab.


Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.