Hargai Jika Ini Prestasi Tertinggi Suami

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

MARKUMI.idBulan ramadan adalah bulan penuh keberkahan. Bulan di mana di dalamnya terdapat banyak keutamaan dan kebaikan. Dan setiap perbuatan amal shalih yang dikerjakan pada bulan ramadan pun bernilai berlipat ganda pahala kebaikannya. Sungguh ramadan adalah suatu kemuliaan.

Mungkin tak sedikit orang yang berusaha berlomba-lomba menaikkan status sosial di masyarakat. Misal, dengan meningkatkan kepemilikan barang berharga, kendaraan, ataupun tempat tinggal yang semakin hari semakin mengikuti trend model dan perkembangan jaman yang ada. Banyak orang beramai-ramai ganti kendaraan motor dan mobilnya dari tahun yang lalu hingga keluaran produk terbaru. Seperti itulah kebanyakan orang yang memburu dunia dan memburu kepuasan nafsunya belaka tanpa melihat apakah itu suatu kebaikan hakiki ataukah justru kepuasan kenikmatan semu. Tak ada seorang pun yang tahu, selain hati suci dari diri insan itu sendiri dengan Tuhannya.

Menjelang lebaran hari raya Idul fitri sangat banyak bisa kita jumpai, mungkin orang berbondong ke pusat perbelanjaan dan dealer kendaraan guna menuruti keinginannya untuk mendapatkan produk terbaru. Membeli sesuatu yang belum dimiliki, ataupun membeli sesuatu untuk tingkatkan gengsi. Ya, begitulah kebanyakan manusia pada umumnya. Bukan membeli sesuatu karena kebutuhan ataupun karena adanya keinginan memiliki barang yang memang sudah lama dinantikan dan diharapkan guna menunjang suatu pencapaian dalam kehidupan. Seorang ibu membelikan baju baru untuk anaknya agar lebaran nanti memiliki baju ter-update model kekinian yang tak dimiliki kebanyan orang. Atau, seorang istri meminta kepada suaminya agar kendaraannya ganti model terbaru supaya tidak ketinggalan trend jaman. Hal semacam itu sudah seolah menjadi suatu kelaziman di masyarakat, yang latah layaknya negara berkembang seperti negara kita juga, Indonesia. Apakah hal semacam itu suatu kesalahan? Tentu saja tidak. Sah-sah saja bagi siapa pun untuk melakukan hal itu. Akan tetapi akan menjadi suatu kemadharatan jika hal itu pencapaiannya terjadi dengan cara memaksakan diri. Dengan tak mengukur kapasitas diri. Dan hanya berfikir pendek guna puaskan batin kesenangan semu sesaat dihati, misal dengan cara berhutang ataupun korupsi. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Bagaimana seorang suami bisa rela berhutang ataupun korupsi? Tidak jarang, tidak lain itu disebabkan karena banyaknya tuntutan dari anak dan istri sendiri. Orang terdekat tersayang yang justru telah tega menjerumuskan seorang pimpinan keluarga kedalam lembah jurang kemaksiatan kepada Tuhan. Sungguh ironi yang menyedihkan, manakala seorang istri bukanlah menjadi penenang dan penyejuk hati suami namun justru menjadi perantara atau jembatan menuju neraka bagi sang suami. Semoga kita bisa terhindar dari hal semacam itu hingga ujung kehidupan nanti.

Lantas apakah jika tanpa pemenuhan kepuasan segala materi maka bisa dipastikan kehidupan Anda hina, memalukan, dan menjadi penyebab rendah diri? Tentu saja TIDAK, karena sesungguhnya kebahagiaan hakiki itu terletak di hati dan keikhlasan penerimaan kondisi atas diri. Apakah manusia diharuskan melampaui pencapaian materi hingga tertinggi? Apakah jika Anda tak memiliki rumah pribadi ataupun kendaraan terbaik dan termahal menjadikan Anda frustasi dan krisis kepercayaan diri? Sungguh itu hanya soal cara pandang manusia yang terbatas dan tak selaras dengan kehendak illahi. Karena semua orang beriman telah mengetahui bahwa kunci dan tujuan penciptaan jin dan manusia di dalam hidup tiada lain hanyalah untuk mengabdi dan menyembah tunduk hanya kepada Allah tiada lebih dari itu. Dan segala perbuatan, amalan, bahkan aktivitas pekerjaan yang dilakukan dengan niat beribadah kepada Allah adalah suatu pengabdian penghambaan tertinggi kepada illahi dan itu pasti bernilai ibadah yang mulia apabila didasari hati suci taat kepada aturanNya tanpa melanggar larangan dariNYA.

Sebagaimana yang tertulis dalam kitab sucinya,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku” (QS: adz-Dzariyat: 56)

Jadi tak perlu minder jika Anda belum menjadi orang kaya. Tak perlu bersedih jika Anda masih hidup cukup pas-pasan saja. Tak ada yang memandang hina dan rendah kecuali manusia durjana. Karena Allah pun telah mencontohkan bahwa banyak para nabi dan penerusnya yang mulia mereka berasal dari orang tak berada, orang biasa saja dan dari golongan orang tak kaya. Jika ketaqwaan dinilai hanya dari pencapaian tingginya materi saja, tentunya tak akan ada golongan para orang “miskin” yang tak kaya raya bisa masuk syurga. Tentunya jika surga hanya di kavling bagi pemilik harta dan kekayaan saja, maka bisa dipastikan itu sang Qorun dan Firaun pasti masuk surga. Sayangnya, tolak ukur keimanan, ketaqwaan dan keshalihan seseorang bukanlah terletak pada hartanya. Namun, pada ketauhidan dan ketaataannya kepada sang Pencipta disertai dengan kemuliaan akhlak tentunya.

Lantas bagaimana jika suami Anda atau keluarga Anda belumlah memiliki prestasi tertinggi berupa pencapaian materi?
Tak perlu sedih ataupun takut tentunya jika didasari keimanan tinggi. Surga bukan hanya milik orang kaya. Dan neraka pun bukanlah tempat terakhir bagi para orang tak punya yang hidupnya sekedar berkecukupan saja. Karena orang kaya yang mati masih dalam kondisi ingkar terhadap Tuhan pun pasti akan memasuki neraka, hingga kekal selamanya.

Bulan ramadan adalah momentum terbaik bagi seorang hamba untuk mendekat kepada Tuhannya. Dan ini merupakan waktu paling tepat bagi manusia untuk melakukan percepatan pencapaian ketakwaan dan kesuksesan dalam bidang agama. Karena setiap amal shalih perbuatan yang dilakukan pada bulan ramadhan pahala dan nilainya telah ditetapkan dilipatgandakan semuanya.

Jika saja saat ini prestasi tertinggi yang dimiliki suami Anda bukanlah pemenuhan materi seperti memiliki rumah pribadi, mobil dan motor atas nama sendiri, atau bahkan jabatan karir tertinggi. Namun jika hanya bisa mengkhatamkan Alquran 1x selama waktu bertahun-tahun dalam hidupnya maka tetap hargai dan syukuri, karena itupun merupakan prestasi hakiki yang murni yang semata ditujukan hanya untuk illahi Tuhan yang maha suci, tanpa ada tendensi cari muka kepada pimpinan ataupun rekan kerjanya hingga ingin mendapat imbalan promosi karir agar terpenuhi posisi jabatan makin tinggi.

Wallahu a’lam bis-shawab

Atina Laylata Qodrika, S.S.
Seorang PeDE (Pejuang Dai Entrepreuner)


Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.