Sadranan, Masihkah Diperdebatkan?

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

MARKUMI.id – Saat masih anak-anak selalu berkesan ketika momen sadranan tiba. Dalam benaknya, seperti “pesta” makanan. Karena memang menyajikan berbagai jenis makanan. Bahkan, dalam kegiatan santap makannya dibagi menjadi dua sesi. Pertama, makanan ringan atau buah-buahan. Kedua, makanan pokok (nasi) dan yang tak ketinggalan adalah Ingkung (ayam utuh ungkep). Menambah lengkap kuliner saat itu.

Mungkin Anda yang masih penasaran. Sebenarnya Sadranan sendiri itu apa sih? Idiom Sadranan (nyadran) dari aspek etimologis, diambil dari berbagai bahasa. Pertama, bahasa Indonesia, dalam KBBI (2010), sadran-menyadran diartikan mengunjungi makam pada bulan Ruwah untuk memberikan doa kepada leluhur (ayah, ibu, dan lainnya) dengan membawa bunga atau sesajian.

Kedua, bahasa Sansekerta, sraddha artinya keyakinan. Ketiga, nyadran dalam Bahasa Jawa berasal dari kata sadran yang artinya ruwah syakban lantaran dilakukan sebelum Ramadhan.

Keempat, nyadran diambil dari Bahasa Arab, shadrun yang berarti dada. Khamim (2018) berpendapat menjelang Ramadhan, masyarakat harus ndada (introspeksi diri), menyucikan diri dari aspek lahir dan batin. (nu-online).

Sadranan memang sudah ada secara turun-temurun. Tidak ada yang tahu persis kapan dimulainya. Mereka saat ini hanya melanjutkan tradisi yang dianggap baik dan perlu dilestarikan. Biasanya tradisi ini dilaksanakan setahun dua kali. Saat bulan maulid dan sya’ban sebelum puasa. Dan uniknya masing-masing desa tidak bersamaan. Seperti giliran desa satu dengan lainnya. Sehingga bisa saling berkunjung (silaturahmi).

Aktivitas dalam tradisi ini sendiri yang pertama bersih-bersih makam (besik). Biasanya, setiap ahli waris bertanggung jawab sendiri-sendiri. Namun, yang menyenangkan dilakukan bersama-sama. Seperti gotong royong atau kerja bakti. Setelah bersih, dilanjutkan makan bersama. Bisa di makam itu, atau balai desa sesuai kondisi masing-masing. Tentu, sebelum makan ada aktifitas inti yaitu berdzikir dan mendoakan penghuni makam. Serta sebagai pengingat bahwa kita entah kapan yang pasti akan menempati juga.

Satu hal lagi, yang menggembirakan adalah silaturahim. Selain antar anggota masyarakat desa itu sendiri. Biasanya antar keluarga, teman, saling berkunjung seperti halnya lebaran. Sehingga tak bisa bisa dipungkiri ternyata banyak sekali manfaatnya.

Namun, akhir-akhir ini banyak yang “menyerang” tradisi tersebut bid’ah (tidak ada dalam ajaran Nabi). Monggo, jika tidak setuju yang penting tetep rukun. Saya jadi ingat nasehat Gus Mus, pernah mengatakan, “Dakwah itu merangkul, bukan memukul.” Dalam bahasa sederhana saja, dudukkan masalah pada konteksnya. Bagi yang tidak setuju karena apa? Keyakinan, kata Sadranan, prakteknya, atau apa? Semisal itu keyakinan karena dari agama Hindu. Tentu cara yang baik adalah didiskusikan dengan tokoh setempat. Kalau dalam Sadranan kita tidak menyembah dewa-dewa (meminta kepada orang meninggal). Saya kira, tidak masalah. Tidak perlu kencang-kencang dengan dalil, yang kadang malah salah kaprah.

Sedikit yang saya ketahui dan alami. Dalam praktek Sadranan tidak saya temui hal seperti di atas. Justru silaturahim ketemu sanak saudara, tetangga. Berdoa, dzikir kepada Allah SWT, sedekah, membersihkan makam agar tidak seram. Bukankah itu semua baik dan dianjurkan!

Wallahu a’lam bis-shawab.


Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.